Lakukan Rapid test Cegah Penyebaran Covid-19, PT PMLI Gandeng Rumah Sakit Pelabuhan

Proses Pemeriksaan Data Diri Pegawai

Bogor, 25 April 2020. Guna melakukan upaya preventif dalam mencegah penularan Virus Corona (Covid-19) di lingkungan kerja, Manajemen PT PMLI memfasilitasi pegawai operasional untuk melakukan pemeriksaan diri (rapid test) untuk mengetahui terpapar atau tidaknya mereka dari virus asal Wuhan Tiongkok ini.

Para pegawai yang difasilitasi untuk rapid test ini adalah mereka yang sempat ditugaskan untuk melakukan aktivitas kerja di Wilayah Jakarta Utara seperti petugas keamanan, pengendara operasional, dan petugas kebersihan serta beberapa pegawai residence.

Berdasarkan informasi yang diterima, PT Rumah Sakit Pelabuhan (PT RSP) bersedia untuk memfasilitasi pelaksanaan rapid test sebanyak 20 pegawai yang berdomisili di sekitar kota/kabupaten Bogor. Sementara untuk pegawai yang berdomisili di Wilayah Jakarta Utara dapat memeriksakan diri ke Rumah Sakit Port Medical Center (RS PMC) yang berlokasi di Tanjung Priok Jakarta Utara.

Secara bergiliran para pegawai diperiksa oleh petugas kesehatan di Gedung Learning & Innovation Center PT PMLI. Petugas kesehatan dari PT RSP ini melakukan pengecekan identitas dan mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium dan akan mengirimkan hasilnya dalam dua hari ke depan.

Pengambilan Sampel Darah oleh Petugas Kesehatan

Perlu diketahui, meskipun PT PMLI melakukan mekanisme kerja dari rumah kepada para pegawainya, ada bebrapa aktivitas operasional yang tetap harus dilaksanakan di luar rumah seperti pengamanan fasilitas, perawatan gedung, serta pengiriman dokumen penting. Melalui rapid test ini manajemen PT PMLI berharap agar hasil pemeriksaan para pegawai negativ dari paparan virus berbahaya tersebut, sehingga laporan nihil penularan covid-19 dapat terus dipertahankan.

PT PMLI Serahkan Bantuan Pencegahan Penyebaran Covid-19

Bogor, 16 April 2020. Menyikapi penyebaran pandemi Corona Virus Diseases (Covid-19) di Kabupaten Bogor, manajemen PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI)mengambil tindakan untuk ikut serta dalam mengurangi serta menanggulangi penyebaran pandemi Covid-19 tersebut.

Camat Ciawi (tengah) Beserta Perwakilan PT PMLI Saat Menerima Bantuan

Berlokasi di Kantor Kecamatan Ciawi, PT PMLI yang diwakili oleh Mulyana Staf Divisi Sekretaris Perusahaan dan Ramadhona Tallar Staf Divisi Keuangan, SDM dan Umum menyerahkan bantuan dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 Kab.Bogor khususnya wilayah kecamatan Ciawi. Bantuan yang diterima secara langsung oleh Camat Ciawi Agus Hasan Slamet tersebut adalah berupa 500 pcs masker kain.

“Saya sangat berterima kasih terutama kepada jajaran Direksi serta seluruh pegawai PT PMLI, atas bantuan yang diberikan, alhamdulillah komunikasi dengan Pak Dirut malam tadi ternyata bisa langsung terealisasi pagi ini, sekali lagi terima kasih” tutur Camat Ciawi saat ditemui di ruang kerjanya. Selain masker yang saat ini menjadi barang langka, camat ciawi juga menyampaikan kebutuhan yang saat ini diperlukan untuk pencegahan penyebaran Covid-19 ini adalah cairan pembersih tangan, desinfektan, sarung tangan serta perlengkapan medis seperti Alat Perlindungan Diri (APD), alat pengukur suhu tubuh dan lain-lain.

Sementara itu, manajemen PT PMLI melalui surat edaran direksi telah menginstruksikan seluruh pegawai untuk melaksanakan pekerjaan dari rumah terhitung sejak tanggal 18 Maret lalu. Upaya lain yang dilakukan dalam memutus mata rantai penularan covid-19 di lingkungan kerja PT PMLI adalah dengan melakukan penyemprotan cairan desinfektan secara berkala di setiap ruangan kerja PT PMLI baik yang berlokasi di Ciawi maupun di Walang Jakarta Utara. Untuk melakukan pemantauan status kesehatan pegawai, manajemen PT PMLI juga telah membentuk Tim Tanggap Covid-19 yang bertugas untuk mengakomodir laporan riwayat perjalan pegawai dan laporan apabila ada pegawai yang terjangkit Covid-19. Perlu diketahui, sejak 13 April 2020 Kecamatan Ciawi telah ditetapkan sebagai zona merah penyebaran covid-19 oleh Bupati Bogor Ade Yasin setelah dilaporkan satu orang pria berusia 86 tahun terjangkit virus yang mematikan ini.

PERLU UPAYA SERIUS LINDUNGI KEKAYAAN BAWAH LAUT SEBAGAI WARISAN BUDAYA BERSAMA

PERLU UPAYA SERIUS LINDUNGI KEKAYAAN BAWAH LAUT SEBAGAI WARISAN BUDAYA BERSAMA

Jakarta, 5 November 2019 – PT Pendidikan Maritim Logistik Indonesia (PMLI) mendukung setiap upaya pelestarian lingkungan, yang menjadi salah satu sumber kekayaan alam Indonesia. Sebagai pengelola Museum Maritim Indonesia yang banyak bersentuhan dengan kelautan, PMLI sangat mendukung berbagai upaya yang bertujuan melindungi kelestarian bawah laut, yang menyimpan kekayaan tak ternilai, termasuk artefak dan benda-benda kuno sebagai warisan budaya milik bersama.

Kepala Museum Maritim Indonesia Menjelaskan Koleksi Museum Kepada Peserta Forum

Direktur Utama PMLI, Amri Yusuf menjelaskan, PMLI turut berperan dalam penyelenggaraan diskusi bertema Safeguarding and Reviving the Shared Maritime Cultural Heritage of Southeast Asia’ yang akan memperkuat pengembangan pengetahuan dan riset yang dilakukan oleh Museum Maritim Indonesia. “PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) sebagai anak perusahaan PT Pelabuhan II (Persero) atau IPC mengambil peran dalam penyelenggaraan forum diskusi ini untuk melihat peluang-peluang kerja sama yang akan memperkaya khazanah pengetahuan budaya maritim dunia. Ini sangat penting, apalagi secara geografis Indonesia punya posisi penting dalam lalu lintas perdagangan global sejak ratusan tahun silam,” kata Direktur Utama PMLI, Amri Yusuf, di Jakarta, Selasa (5/11).

Forum diskusi bertema ‘Safeguarding and Reviving the Shared Maritime Cultural Heritage of Southeast Asia’ ini digelar UNESCO dan ASEAN, berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Kegiatan ini diadakan mulai Selasa hingga Jumat (5-8 November 2019), di Jakarta dan Belitung, Propinsi Bangka-Belitung. Khusus di Jakarta, acara digelar di Museum Maritim Indonesia, yang dikelola PT PMLI.

Sejumlah pakar sejarah dan budaya dari sejumlah negara Asia hadir sebagai pembicara, antara lain Singgih Tri Sulistio, Tim Winters, Tep Sokha, Nia Hasanah Ridwan, perwakilan Unesco di Indonesia, Moe Chiba, serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilman Farid. “Perlu ada upaya serius untuk menjaga dan melindungi kekayaan bawah laut seperti artefak atau benda-benda kuno yang bisa mengungkapkan sejarah dan peradaban maritim dunia. Jika tidak dilindungi, benda-benda tersebut rentan rusak atau tersimpan di tangan yang salah, mengingat nilai komersialnya juga sangat tinggi,” lanjut Amri.

Peserta Forum Meninjau Koleksi yang Dimiliki Museum Maritim Indonesia

Hadir pada kesempatan tersebut, Direktur Operasi IPC, Prasetyadi, mengatakan bahwa perairan Nusantara sudah lama menjadi jalur pertukaran peradaban lintas negara dan lintas benua. Sebagai jalur sibuk pelayaran, IPC meyakini bahwa lingkungan bawah laut Nusantara menyimpan banyak artefak yang tak ternilai, yang bisa digali untuk penelitian ilmiah, sejarah dan budaya. “IPC siap berkontribusi dan berkolaborasi untuk menjaga kekayaan bawah laut di Indonesia. Kami mendukung setiap upaya untuk perlindungan kekayaan bawah laut, termasuk kerja sama, seperti forum diskusi pelestarian budaya maritim di Asia Tenggara ini”.

Perlu Upaya Serius Lindungi Kekayaan Bawah Laut sebagai Warisan Budaya Bersama

Perlu Upaya Serius Lindungi Kekayaan Bawah Laut Sebagai Warisan Budaya Bersama

Jakarta, 5 Nop 2019 – PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC mendukung setiap upaya pelestarian lingkungan, yang menjadi salah satu sumber kekayaan alam Indonesia. Sebagai pengelola pelabuhan yang banyak bersentuhan dengan kelautan, IPC berkepentingan melindungi kelestarian bawah laut, yang menyimpan kekayaan tak ternilai, termasuk artefak dan benda-benda kuno sebagai warisan budaya  milik bersama.

Kepala Museum Maritim Indonesia Menjelaskan Koleksi Museum Kepada Peserta Forum

“IPC, melalui PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) sebagai anak perusahaan, siap berkontribusi dan berkolaborasi untuk menjaga kekayaan bawah laut di Indonesia. Kami mendukung setiap upaya untuk perlindungan kekayaan bawah laut, termasuk kerja sama, seperti forum diskusi pelestarian budaya maritim di Asia Tenggara ini,” kata Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya, di Jakarta, Selasa (5/11).

Elvyn menjelaskan, perairan Nusantara sudah lama menjadi jalur pertukaran peradaban lintas negara dan lintas benua. Sebagai jalur sibuk pelayaran, IPC meyakini bahwa lingkungan bawah laut Nusantara menyimpan banyak artefak yang tak ternilai, yang bisa digali untuk penelitian ilmiah, sejarah dan budaya. “Perlu ada upaya serius untuk menjaga dan melindungi kekayaan bawah laut seperti artefak atau benda-benda kuno yang bisa mengungkapkan sejarah dan peradaban maritim dunia. Jika tidak dilindungi, benda-benda tersebut rentan rusak atau tersimpan di tangan yang salah, mengingat nilai komersialnya juga sangat tinggi,” katanya.

Forum diskusi bertema ‘Safeguarding and Reviving the Shared Maritime Cultural Heritage of Southeast Asia’ ini digelar UNESCO dan ASEAN, berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Kegiatan ini diadakan mulai Selasa hingga Jumat (5-8 November 2019), di Jakarta dan Belitung, Propinsi Bangka-Belitung. Khusus di Jakarta, acara digelar di Museum Maritim Indonesia, yang dikelola PT PMLI. Sejumlah pakar sejarah dan budaya dari sejumlah negara Asia hadir sebagai pembicara, antara lain Singgih Tri Sulistio, Tim Winters, Tep Sokha, Nia Hasanah Ridwan, perwakilan Unesco di Indonesia, Moe Chiba, serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilman Farid.

Peserta Forum Meninjau Koleksi yang Dimiliki Museum Maritim Indonesia

Sementara itu, Direktur Utama PMLI, Amri Yusuf menjelaskan, diskusi ini akan memperkuat pengembangan pengetahuan dan riset yang dilakukan oleh Museum Maritim Indonesia. Apalagi para pembicara fokus mendiskusikan upaya pengelolaan kapal karam, benda muatan kapal tenggelam (BMKT), serta pengembangan museum. “PMLI memanfaatkan forum diskusi ini untuk melihat peluang-peluang kerja sama yang akan memperkaya khazanah pengetahuan budaya maritim dunia. Ini sangat penting, apalagi secara geografis Indonesia punya posisi penting dalam lalu lintas perdagangan global sejak ratusan tahun silam,” ujar Amri.

Feedback Asesmen KSO TPK KOJA

Training Business Game with Assessor PMLI

Asesmen Kompetensi PT Pengerukan Indonesia

Perlu Upaya Serius Lindungi Kekayaan Bawah Laut sebagai Warisan Budaya Bersama

Perlu Upaya Serius Lindungi Kekayaan Bawah Laut  sebagai Warisan Budaya Bersama

Jakarta, 5 Nop 2019 – PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC mendukung setiap upaya pelestarian lingkungan, yang menjadi salah satu sumber kekayaan alam Indonesia. Sebagai pengelola pelabuhan yang banyak bersentuhan dengan kelautan, IPC berkepentingan melindungi kelestarian bawah laut, yang menyimpan kekayaan tak ternilai, termasuk artefak dan benda-benda kuno sebagai warisan budaya  milik bersama.

Kepala Museum Maritim Indonesia Menjelaskan Koleksi Museum Kepada Peserta Forum

“IPC, melalui PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia (PMLI) sebagai anak perusahaan, siap berkontribusi dan berkolaborasi untuk menjaga kekayaan bawah laut di Indonesia. Kami mendukung setiap upaya untuk perlindungan kekayaan bawah laut, termasuk kerja sama, seperti forum diskusi pelestarian budaya maritim di Asia Tenggara ini,” kata Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya, di Jakarta, Selasa (5/11).

Elvyn menjelaskan, perairan Nusantara sudah lama menjadi jalur pertukaran peradaban lintas negara dan lintas benua. Sebagai jalur sibuk pelayaran, IPC meyakini bahwa lingkungan bawah laut Nusantara menyimpan banyak artefak yang tak ternilai, yang bisa digali untuk penelitian ilmiah, sejarah dan budaya. “Perlu ada upaya serius untuk menjaga dan melindungi kekayaan bawah laut seperti artefak atau benda-benda kuno yang bisa mengungkapkan sejarah dan peradaban maritim dunia. Jika tidak dilindungi, benda-benda tersebut rentan rusak atau tersimpan di tangan yang salah, mengingat nilai komersialnya juga sangat tinggi,” katanya.

Forum diskusi bertema ‘Safeguarding and Reviving the Shared Maritime Cultural Heritage of Southeast Asia’ ini digelar UNESCO dan ASEAN, berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Kegiatan ini diadakan mulai Selasa hingga Jumat (5-8 November 2019), di Jakarta dan Belitung, Propinsi Bangka-Belitung. Khusus di Jakarta, acara digelar di Museum Maritim Indonesia, yang dikelola PT PMLI. Sejumlah pakar sejarah dan budaya dari sejumlah negara Asia hadir sebagai pembicara, antara lain Singgih Tri Sulistio, Tim Winters, Tep Sokha, Nia Hasanah Ridwan, perwakilan Unesco di Indonesia, Moe Chiba, serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilman Farid.

Peserta Forum Meninjau Koleksi yang Dimiliki Museum Maritim Indonesia

Sementara itu, Direktur Utama PMLI, Amri Yusuf menjelaskan, diskusi ini akan memperkuat pengembangan pengetahuan dan riset yang dilakukan oleh Museum Maritim Indonesia. Apalagi para pembicara fokus mendiskusikan upaya pengelolaan kapal karam, benda muatan kapal tenggelam (BMKT), serta pengembangan museum. “PMLI memanfaatkan forum diskusi ini untuk melihat peluang-peluang kerja sama yang akan memperkaya khazanah pengetahuan budaya maritim dunia. Ini sangat penting, apalagi secara geografis Indonesia punya posisi penting dalam lalu lintas perdagangan global sejak ratusan tahun silam,” ujar Amri.